Beberapa bulan sebelum hari pernikahanmu, mungkin kamu lagi duduk sama pasangan di kafe favorit. List persiapan udah numpuk: venue beres, katering oke, baju udah fitting kedua. Lalu topik “souvenir” muncul… dan tiba-tiba otak kamu jalan kenceng.
“Kita mau kasih souvenir apa ya? Terus kapan harus pesen? Kalo telat gimana? Mana undangannya belum final pula.”
Yep, klasik. Banyak pasangan mengalami fase ini: pengen souvenir yang berkesan, estetik, berguna, tapi nggak mau drama menjelang hari H. Dan percaya deh, kuncinya bukan cuma soal pilih barangnya tapi juga kapan mulai pesannya.
Jadi, kapan sih waktu ideal untuk memesan souvenir pernikahan?
Jawabannya: 2 sampai 3 bulan sebelum hari pernikahan.
Ini waktu emas buat kamu nggak terburu-buru, nggak salah pilih vendor, dan nggak deg-degan nunggu paket di depan pintu kaya nunggu drama Korea final episode. Apalagi kalau kamu pilih souvenir custom, seperti tote bag nama kamu dan pasangan, lilin aromaterapi personal, atau tumbler bertema wedding. Untuk yang beginian, 3 bulan itu paling aman.
Bayangin kalau kamu pesan mepet. Vendor tiba-tiba full order, kurir delay, atau packaging kurang bahan. Bisa stres.
Makanya, mending mulai dari sekarang, sambil nyetel lagu-lagu wedding vibes biar mood makin cakep.
Gambaran perjalanan souvenir kamu
Bayangin timeline kamu kaya jalan cerita drama:
- Episode 1: 4 bulan sebelum hari H
Kamu dan pasangan mulai brainstorming. Scroll Pinterest, stalking Instagram vendor, buka marketplace, cek review. Pokoknya fase “dreaming but still realistic”. - Episode 2: 3 bulan sebelum hari H
Kamu udah punya shortlist vendor, fix desain, bayar DP, dan produksi dimulai. Rasanya exciting banget lihat first draft desain. - Episode 3: 1–2 bulan sebelum hari H
Paket mulai berdatangan. Kamu buka satu-satu sambil senyum sendiri. Checked. Aman. Cuma tinggal packaging tambahan kalau mau ditambah pita atau tag nama lucu. - Episode 4: 2 minggu menjelang hari H
Ada drama kecil: “Sayang, kok baru 300 ya? Kita perlu 325.” Tapi karena kamu pesan lebih, aman. Packing time dimulai, bisa sambil bonding sama bridesmaid atau keluarga.
Happy ending vibes banget.
Souvenir itu buat siapa sih?
Kalau kamu sempat mikir “Souvenir buat siapa aja ya?”, jawabannya:
- Buat tamu undangan yang hadir (ini wajib)
- Buat keluarga inti atau VIP (kadang versinya lebih premium)
- Buat panitia inti atau vendor tertentu sebagai tanda terima kasih
Kadang ada yang bikin special box untuk bridesmaid dan groomsmen. Extra love never hurts.
Pukul berapa souvenir dibagikan?
Ini juga sering jadi dilema. Sebenarnya simpel.
Di Indonesia, kebiasaan ada dua:
- Saat tamu datang
Cocok untuk snack box kecil, kipas, sapu tangan, item simple - Saat tamu pulang
Biasanya untuk souvenir yang isiannya banyak atau agak bulky
Tinggal sesuaikan flow acara kamu. Kalau venue besar, mending pisahin booth souvenir biar tidak chaos di pintu keluar.
Souvenir nikah masih tren di 2025?
Jawaban singkat: masih banget. Malah bentuknya makin kreatif.
Pasangan pengantin sekarang mikirnya bukan “kasih apa ya?”, tapi “apa yang bikin mereka ingat hari kita dan beneran kepake?”. Souvenir yang makin naik daun di 2025:
- Tote bag aesthetic
- Tumbler atau botol minum
- Lilin aromaterapi
- Edible gift seperti cookies, madu, teh premium
- Produk ramah lingkungan atau UMKM lokal
Souvenir bukan sekadar barang, tapi cerita kecil dari cinta kalian berdua.
Vendor rekomendasi? Ada dong
Kalau kamu nyari tas kanvas custom yang simple, cantik, dan kekinian, Fems Official tuh banyak direkomendasikan calon pengantin. Modelnya clean, kualitas aman, cocok buat konsep casual elegant sampai rustic chic. Worth checking kalau pengen souvenir yang beneran dipake tamu.
Tips biar nggak hectic
- Siapkan 5–10 persen extra dari total tamu
- Fokus ke barang yang beneran kepake
- Sesuaikan tema wedding
- Cek review vendor sebelum deal
- Jangan nunda (ini mantra penting)
Penutup: Biar persiapan nikah kamu tetap fun
Souvenir itu mungkin cuma satu item dalam sekian checklist wedding. Tapi vibes yang muncul waktu kamu lihat hasilnya datang tuh priceless. Ada kebanggaan kecil, “Ini milihnya bareng, ini bagian dari cerita kita.”
Jadi jangan tunggu sampai waktu ngejar kamu. Mulai sekarang, pelan tapi pasti, dan nikmati prosesnya. Kamu lagi bangun kenangan, bukan cuma checklist acara.

